Apa yang terjadi ketika karakter anime menjadi sadar bahwa mereka ada di anime? menghilangkan tembok pembatasa antara anime dan penonton sehingga karakter itu dapat memperoleh kesadaran sepenuhnya seolah-olah dia merupakan aktor asli yang dibayar mahal.

Sadis!.

Dalam beberapa anime, karakter anime akan menghilangkan tembok pembatas antara penonton dan anime itu sendiri, seringkali karakter anime menyebutkan siapa pengisi suaranya atau menunjukkan betapa tak berartinya sebuah cameo, hal ini biasanya dilakukan secara sitematis atau hanya terjadi pada permulaan episode saja.

Biasanya, kesadaran dari karakter anime ditunjukkan dengan dialog dan tingkah laku mereka yang sadar kalau mereka adalah karakter dalam anime,   …hasil yang lumayan…

Anime di bawah ini menunjukkan apa yang terjadi saat sebuah karakter menjadi sadar diri.

 

Danshi Koukousei no Nichijou


Hidenori: “Karena aku mendengar Square Enix dan Sunrise sedang melakukan kolab.”
Tadakuni: “Ini adalah anime tentang kehidupan normal sehari-hari!”


Dalam 15 menit pertama, anime ini menyinggung tentang orang-orang yang berada di balik animenya sendiri seperti menyebutkan nama pengarang anime. Mereka juga mempertanyakan hak untuk memiliki sebuah anime tentang kehidupan mereka, mengumumkan “sponsor malas mereka”, dan terus mengingatkan penonton bahwa yang ditonton adalah sebuah parodi yang cukup menyadari kekonyolannya sendiri.

 

Heppoko Jikken Animation Excel♥Saga


Great Will of the Macrocosm: “Bangunlah, Excel. Excel, kamu tidak boleh mati begitu acara dimulai. Hidup itu berharga, tapi lebih dari itu, perhatikan alur ceritanya.”


Karakter anime ini sendiri yang mengakui bahwa anime ini adalah “anime eksperimental.” Setiap episode memiliki nuansa yang berbeda, tapi satu hal selalu sama: komedi lucu yang berantakan dan berkelanjutan.

menampilkan karakter utama yang bernasib paling menyedihkan. Ketika Excel hampir terbunuh di episode pertama, dia diberitahu bahwa anime tidak dapat berlanjut tanpa dirinya. Ketika dia dikirim dengan tugas untuk membunuh mangaka dan penciptanya sendiri, keberadaannya dipertanyakan. Saksikan saat anime ini mennyinggung anime konvensional dan menciptakan karakter yang berinteraksi dengan penonton

 

Puni Puni☆Poemii 


Ibu Poemy: “Mengapa Poemy menyebut dirinya sebagai Kobayashi?”
Nabeshin: “Dia buruk untuk tetap berkarakter.”


Puni Puni Poemii adalah spin-off dari anime sebelumnya: Excel Saga, jadi kawan tahu lah!, seberapa konyol anime ini kedepannya. Pada OVA 2 anime ini menunjukkan bahwa karakter anime ini lebih sadar lagi, dan teus menerus membuat referensi konyol tentang hal-hal dalam kehidupan nyata tentang karakter di alam semesta tidak memiliki pengetahuan bisnis. Poemi bersikeras menyebut dirinya dengan nama pengisi suaranya, dan memanggil ayahnya Nabeshin “Direktur” (karena karakter ayah disuarakan oleh sutradara dari seri ini sendiri).

 

Joshiraku


Tetora: “Kamu sebaiknya membaca manga ini seperti apa adanya? Mengapa ada orang yang ingin membuat adaptasi anime?”


Anime ini berfokus pada lima gadis yang melakukan rakugo (sebuah bentuk teater jepang dimana seorang pemain tunggal duduk di atas panggung dan menghibur penonton dengan cerita). Gadis-gadis tersebut tidak hanya tampil untuk audiens di dunia mereka, mereka juga tampil untuk penonton di balik layar. Episode ini sebagian besar terdiri dari lima gadis yang duduk-duduk dan berbicara – dan membuat banyak referensi budaya, karena si pengarang juga merupakan “ide” dibalik budaya Sayonara Zetsubou Sensei. Tapi gadis-gadis itu sangat sadar bahwa mereka menghibur kawan, pemirsa, dan dengan senang hati membicarakan audiens, mengomentari berbagai aspek dalam anime mereka sendiri. 

 

Gintama


Gintoki: “Apa ini !? bagaimana bisa aku menjadi sketsa sederhana!”
Shinpachi: “Oh, sepertinya key animation tidak dilakukan tepat waktu dan yang kita punya hanyalah draft kasarnya.”


Gintama tidak selalu sadar kalau dirinya ada dalam anime, tapi hampir pada setiap episode mengandung beberapa komedi tentang kesadaran mereka dalama anime. Apakah mereka mengeluh tentang animator yang malas, atau tentang sketsa mereka yang belum selesai, serial ini penuh dengan humor konyol semacam ini. Mungkin kemampuannya untuk menertawakan dirinya sendiri-lah yang membuatnya begitu populer di kalangan banyak penggemar.

 

Seitokai no Ichizon


Kurimu: “Kami tidak membutuhkan setting karakter yang tidak perlu!”
Ken: “Tapi saya adalah karakter utama, Kau tahu!.”


Jika dilihat sekilas, Saitokai no Ichizon adalah anime harem. Pada kenyataannya, anime ini penuh dengan jenis fanservice yang berbeda: referensi untuk permainan video dan anime lainnya. Karakter tidak sepenuhnya sadar bahwa mereka ada di anime, tapi anime ini memecah pembatas antara mereka dan penonton dengan konsisten untuk membuat anime yang cukup sadar diri.

 

Bobobo-bo Bo-bobo

 


Narator: “Oh, itu isyarat saya.”


Meskipun judul dari animie ini kurang meyakinkan bagi sebagian orang, namun di tengah kegilaan anime ini kawan akan menemukan narator yang hampir kehilangan garis keturunannya, karakter menjadi sadar tentang tulisan yang tertulis di layar, dan kekonyolan serupa lainnya.

 

Ookami-san to Shichinin no Nakama-tachi

 


Narator: sungguh oppai yang menyedihkan, meski ini adalah adegan pelayanan.


Untuk banyak adegan, anime ini memainkan peran-nya secara langsung, …  kecuali untuk satu kasus: karakter dapat mendengar apa yang dikatakan narator. walaupun sebagian besar adegan yang dimainkan anime ini relatif normal, namun karakter terkadang menghentikan apa yang mereka lakukan hanya untuk merespons atau melotot pada narator. Narator suka mengomentari peristiwa dalam anime ini, seolah dia sedang menonton bersama dengan pemirsa (dia juga suka mengomentari ukuran dada gadis-gadis ..!).




Warning: A non-numeric value encountered in /home/u5751891/public_html/wp-content/themes/Newspaper/includes/wp_booster/td_block.php on line 1008